kemaren malem, aku meminta bosman mengantar ke reuni sd keesokan paginya. mama yang duduk di depanku, ngetawain, "walah reuni sd kandang ayam!" adik bungsuku yang terlihat sudah tidak berminat dengan nasi opor ayamnya malah minta ikut. bosman nanya nanya sambil berusaha menelan rendang, "jam berapa?"
"jam delapan."
"pagi banget?!"
yups, reaksi yang persis sama dengan reaksi pertamaku saat melihat woro-woro reuni di inbox facebook.
"22 september 2009, jam 8.00 pagi, tempat: di sd."
dalam hati, kupikir, "serius nih, jam delapan gitu lhoch, apa ga kepagian?" di satu sisi muncul kecurigaanku, jangan-jangan ini karena teman2 udah biasa telat kalo janjian, makanya jam-nya sengaja dipagiin. tapi, di sisi lain ada sisi optimisku, temen2 kan udah pada kerja, so pasti udah profesional dan biasa tepat waktu.
karena masih setengah-setengah ga jelas itulah, keesokan paginya kami berangkat pagi-pagi tapi tak terlalu pagi. bosman yang emang tipe orang disiplin mengajak berangkat pukul setengah delapan. tapi aku malah dandan-dandan dulu :-P maklum, mau ketemu temen2 sd gitu lhoch. meskipun mereka anak2 yang menyebalkan tapi kan ada-lah keinginanku untuk jaim2 dikit, hehehe .... (lebih tepatnya, pengen tampil sedikit beda daripada nadya sd, hohoho).
pagi-pagi di masa libur, jalanan di jogja masih sepiiii sekali. jalan lingkar utara alias ring road yang selebar itu tuh terasa jadi milik kami berdua aja. nikmat! dingin gitu, kami merayap pelan-pelan naik skuter.
akhirnya kami sampai di sd jam 8.10. waduh, telat nih :-P tapi kok belum ada orang? aku jadi bingung. ada pak tamyis. dia pak bon dari jaman aku masih sd. sampai sekarang pun masih kerja sebagai pak bon di sd itu. "pak, katanya ada reuni?" tanyaku. eh, ternyata dia malah ngga tahu-menahu. wah, piye to iki. kok ga jelas. jangan-jangan ga jadi? atau, aku yang salah liat tanggal?
gawat. aku cuma punya satu nomer hp teman sd-ku, dan kemarin ketika kutelpon, dia sedang berlebaran di jakarta. kuharap dia, sebut saja si rw, punya nomer telepon temen sd yang lain, supaya aku bisa tanya-tanya "what's going on". karena ga punya pulsa, aku menelpon pake nomer orang yang menemaniku, harap-harap cemas semoga si rw mau ngangkat. (banyak banget yah harapan aku). untunglah rw mau angkat, trus dia punya nomer telepon temen sd yang lain, cuma satu juga, sebut saja si f. hmm, si f ikut reuni ga ya?
"tut tut tuttt ...," aku telpon2 si f dan ga diangkat-angkat. baru telepon ketiga dia mau angkat. mendengar suaranya, aku melihat jam, wah ini udah jam delapan lebih banyak .... langsung kusambar dia dengan maaf lahir batin, memperkenalkan diri, trus kutanya, "katanya ada reuni ya?"
"iya nad, hari ini." (hah berarti bukan aku yang salah liat tanggal donkz).
"jam delapan di sd kan? kok belum ada orang?" dar der dor, gitulah kalo aku ngomong.
"lho kamu udah di sana to? ini aku baru telepon temen2, pada belum bangun."
howalaaahhh .... piye to yo.
"yaudah, tapi jadi kan?"
"iya jadi."
kami pun pamit sama pak tamyis, ntar kalo ada temen yang dateng tolong bilangin kami baru cari makan. bosman belum sarapan jadi kami santai-santai keliling cari warung, belum pada buka. makan seadanya, eh tau-tau udah jam sembilan. pak tamyis pasti ga bisa diandalkan deh. buktinya tu sd malah digembok semuanya. dan, masih belum ada yang datang satu pun! parah deh. aku memutuskan pulang aja. eh, pas di ujung gang keluar, nongol-lah muka satu temen sd aku naik motor. langsung kami puter balik ke sd. rencana acara reuni ini belum jelas. makanya, kemarin aku minta bosman antar aja, baru ntar kalo udah selesai aku sms minta jemput. bosman membekaliku dengan helm yang lebih bagus, trus dia pulang. sampe terakhir, yang dateng cuma 4 orang. lalu kami ngampiri ke rumah salah satu temen sd, sebut saja si t. rencana mengunjungi guru batal semua, karena beliau sedang ada pelatihan dan sampe rumah baru jam 1 siang. (gila ya lebaran gini ga libur :-P).
di rumah si t inilah reuni mulai menemukan bentuknya. di mana-mana, reuni itu selalu diawali dengan tanya kabar. lalu langsung deh nanya kerjaan. "yo mburuh neng jakarta." bagiku jawaban semacam ini tuh menjengkelkan, karena ga menjawab pertanyaan. seolah-olah semua orang tu udah tau pekerjaan dia. mbok ya bilang aja terus terang, kan lebih jelas, ringkas, dan praktis. mbok biasa-biasa aja, ga usah pengen sok merendah gitu wong belum tentu orang lain terkesan dengan pekerjaanmu meski kamu merasa itu sangat mentereng dan berkilau sampai-sampai kau merasa perlu menyembunyikannya. tiba-tiba terasa berat bagiku untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan teman-teman sd ini. maklum, udah bertahun-tahun ga ketemu. sepertinya aku sudah tidak mengenal mereka .... atau lebih tepatnya, pernahkah aku mengenal mereka?
bertemu kembali dengan teman-teman sd-ku sebenarnya terasa canggung. abis, cowok semua! pada ke mana sih, cewek-ceweknya? apa udah pada disibukkan dengan anak-suami? yah, aku terlalu semangat pengen ketemu temen2, mumpung di jogja kan :-P ternyata mereka ga hadir. tapi tentunya banyak faktor yang bikin reuni ini terkesan setengah hati. ga tau deh faktor apa aja. menurutku sih, terutama karena tidak dipersiapkan dengan serius, karena untuk mempersiapkan dengan serius pasti ga ada yang mau jadi panitia/seksi sibuknya. setelah ngobrol ngalor ngidul tentang teman-teman dan pekerjaan, menelpon beberapa teman lain untuk bergabung (dan tidak ada yang bisa), kami berlima memutuskan makan. lumayanlah. semasa makan kami ngobrol-ngobrol lagi .... mulai dari cerita tkw, sampai cerita tentang baca nama teman sd kami di koran, jadi korban penusukan. geleng2 rasanya kalo inget si anak itu saat sd. sampe semalem ini, aku ga bisa tidur karena ga bisa nahan tawa inget cerita2 kami tentang jaman sd. terutama tentang "pak uban". wah, aku merasa menyatu karena terhubung oleh sebuah labirin memori kolektif, memori sd. masa-masa belia, saat kenangan menemukan tempat persemaiannya yang sempurna. masa-masa awal kami sebagai manusia.
sekarang aku tahu bagaimana memori itu bekerja. salah satu melontarkan sekeping memori, secara samar2, kemudian teman2 lain akan menggosoknya sampai berkilat dan bersih dari segala karat. memori itu menjadi segar, seperti baru saja terjadi, seperti baru saja dapat nyawa baru, darah baru, hidup kembali dari satu tidur panjang. masih mungkinkah mengumpulkan memori-memori baru bersama? aku tak tahu. sama halnya dengan aku tak tahu mengapa manusia itu punya rasa kangen ... punya kebutuhan mengetahui kabar orang lain, bahkan sampai terobsesi dengan segala detail?
saat reuni, aku baru sadar, memandang mereka satu per satu. inilah kami, teman semasa sd. sekarang kami sudah besar, berteman sekadarnya saja. aku ingin mengetuk selubung-selubung kaca mereka. mungkinkah mereka mempersilakan aku masuk? mereka ada di sana saat aku nangis karena lupa bawa pr. mereka ada di sana saat aku tumbuh menjadi gadis yang cenderung mengamati dan tidak bermasalah dengan kesendirian. mereka ada di sana saat aku sedang mengumpulkan keberanian mengalami dunia. mereka diem-diem aja tapi sebenernya perhatian. tiba-tiba aku merindukan sebentuk persahabatan yang sederhana.
aku bertanya, dalam hati saja, ingin tahu, bagaimana cerita-cerita mereka pribadi? apakah mereka bahagia? apakah mereka kesepian? apakah mereka masih menikmati kebersamaan dengan teman-teman (seperti saat sd) atau hanya terlarut dalam pekerjaan dan mengincar mobil bmw terbaru? sejujurnya, aku masih melihat mereka sebagai teman2 sd-ku yang lucu-lucu. inosen polos dan sederhana, meski ada bandel-bandelnya juga. tampang-tampang kami tidak banyak berubah dari jaman sd. bahkan sifat-sifat kami pun sepertinya tidak banyak berubah, setidaknya begitu menurut pengamatanku. mungkin masing-masing kami masih ada keraguan, untuk menyapa saja ragu, apalagi untuk benar-benar bisa menjalin kekerabatan dan persahabatan. (baik menyambung kembali karib yang pernah ada, maupun membangun sebuah keterlibatan yang belum pernah ada ....)
ya sebenarnya reuni itu bukan sebuah beban, karena sebenarnya orang-orang tu ga bener2 peduli kok denganmu. mereka hanya ingin sekedar tau saja. melepas kangen. ketemu sebentar untuk kewajiban, modal sosial, atau untuk menunjukkan bahwa kita berani. atau, paling banter, pengen menjalin kembali silaturami yang selama ini terputus. paling2, abis reuni semua itu langsung terlupakan lagi, menyelip di satu sudut belakang laci memori yang penuh debu.
tidak ada yang menakutkan dari itu semua.